23 January 2014

Masakan Sunda dan Kerinduan Masa Lalu

Masakan Sunda
Masakan Sunda memang memiliki keunikkan tersendiri. Selain rasanya yang khas, menikmati masakan tersebut sepertinya membangkitkan kerinduan pada kampung halaman dan masa lalu. Karedok leunca, lalab, goreng peuteuy, ditambah sambel cikur pedas merupakan menu yang biasa dinikmati  sambil botram di saung balong aki, apalagi jika disodori goreng belut yang masih haneut, deuh pol pisan!

Masakan Sunda tak hanya ada dipedesaan saja namun kini sudah bisa kita nikmati di kota. Saat ini beragam jenis masakan tradisional nusantra bisa kita dapatkan dengan mudah tanpa harus bersusah payah datang ke tempat asalnya. Bahkan pemilik restoran atau hotel mencantumkan masakan tradisional sebagai menu andalan kedalam daftar menunya.

Meski hampir keseluruhan makanan tradisional tampil sederhana, namun justru disitulah hal yang menarik dan dicari orang-orang. Kesederhanaan kiranya menjadi ciri khas dari keasliannya masakan itu sendiri. Seperti pedasnya sambal cikur yang diulek diatas cowet menjadi khas karena tempat penyajianannya.

Related Posts:

  • Topik Setan dalam Kuliner Mungkin karena ingin menjadi unik atau sekedar cari sensasi, nama setan jadi ikutan nangkiring dalam topik kuliner. Entahlah, mungkin juga jaman ini … Read More
  • Memasak Bakso Sarang Burung Sama sekali tidak ada kaitannya dengan aneka burung, mengganggu habitat burung apalagi sarangnya sampai dijadikan sajian masakan. Kasian juga tuh bu… Read More
  • Nasi Goreng Ayam Crispy Kemaren pas pulang sore-sore mampir dulu di warung nasi timbel dan tukang ayam Crispy. Eh ada teteh-teteh cantik nawarin produk peralatan dapur. Pro… Read More
  • Kue Semprong Kipas Entah dari mana makanan tersebut dinamai kue semprong dan kapan kue tersebut diciptakan, yang jelas kue tersebut sudah populer dari dulu namun sayan… Read More
  • Masakan Sunda dan Kerinduan Masa Lalu Masakan Sunda memang memiliki keunikkan tersendiri. Selain rasanya yang khas, menikmati masakan tersebut sepertinya membangkitkan kerinduan pada kamp… Read More

0 comments:

Post a Comment